TRENDING
Showing posts with label FEATURED. Show all posts
Showing posts with label FEATURED. Show all posts

Monday, August 24, 2015

Miskin Kreasi, Juventus Butuh Sosok Genius

Juve minim peluang emas hadapi Udinese.

Melihat kekalahan Juventus atas Udinese, tampak jelas jika Si Nyonya Tua membutuhkan sosok genius dalam mengkreasi peluang.

Juventus mungkin telah membuka Serie A Italia musim 2015/16 dengan cara yang paling buruk. Menelan kekalahan, gagal mencetak gol, dan itu semua terjadi di stadion kebanggaan mereka, Juventus Stadium. Rekor 47 partai kandang tak terkalahkan di Serie A yang dimulai pada 2013 lalu pun berakhir.
Hasil minor yang didapat dari Udinese tersebut mengulang tragedi lima tahun silam, kali terakhir Juve kalah pada giornata perdana. Lebih buruk, karena dalam 87 tahun terakhir inilah kekalahan pertama La Vecchia Omcidi di kandang sendiri pada gironata perdana!

Kini aura negatif semakin tegas mengitari skuat Juve. Segala kekhawatiran, mulai dari kepergian para bintangnya, mitos buruk musim kedua Massimiliano Allegri, serta hasil pra musim yang tak memuaskan, derita seakan makin lengkap dengan kekalahan di giornata perdana ini.

Juve memang tak bisa disebut bermain buruk, karena menguasai laga hingga persentase 66 persen bahkan sanggup melepaskan 21 tembakan ke arah gawang! Namun masalah terlihat begitu jelas, bagaimana I Bianconeri tidak memiliki pemain yang jadi inspirasi permainan. 


 
Kepergian Tevez, Pirlo, dan Vidal begitu terasa dampaknya

"Kepergian Carlos Tevez, Andrea Pirlo, dan Arturo Vidal adalah kehilangan besar bagi Juventus. Kekuatan yang sudah dibangun nyaris sempurna selama bertahun-tahun harus diatur ulang," begitu komentar Dino Zoff, menyambut musim 2015/16 bagi mantan klub yang memberinya predikat legenda tersebut.
Tak bisa dibantah, Tevez, Pirlo, dan Vidal, memiliki peran yang terlampau krusial dalam dua hingga empat musim terakhir kejayaan Juve.

Pirlo merupakan sutradara lapangan yang mengintepretasikan instruksi pelatih lewat cara fantastis. Vidal adalah pemain bertenaga kuda yang jadi aktor pertama pemutus serangan lawan sekaligus pembangun serangan timnya. Tevez? Dia adalah penyelesai segalanya dalam bentuk gol bahkan dari situasi sesulit apapun.
Kini Juve tak lagi memiliki pemain dengan peran besar seperti itu. Dalam kasus hadapi Udinese, situasi I Bianconeri bahkan diperparah dengan cederanya Sami Khedira, Claudio Marchisio, hingga Alvaro Morata.
Puing-puing kejayaan memang masih terlihat dalam permainan Paul Pogba cs, namun harus diakui jika mereka sungguh bermain tanpa inspirasi.


 
Sorotan lainnya adalah taktik Allegri, yang tak memasang komposisi starting XI plan B dengan tepat. Skema 3-5-2 yang sejatinya tidak berjalan baik dalam rengkuhan Piala Super Italia 2015 lalu, kembali jadi andalan. Selain itu komposisi pemain yang diturunkan juga menimbulkan tanda tanya.
Formasi 3-5-2 ala Antonio Conte yang sedikit direvisi oleh Allegri memang menuai kesuksesan musim lalu. Namun titik berat dari taktik tersebut adalah pertahanan, bukan sebaliknya. Sementara skema andalan 4-3-1-2 yang lebih menjanjikan gelontoran gol, justru baru diterapkan pasca Juve kebobolan di menit ke-78. Menghadapi tim yang lebih inferior layaknya Udinese, La Vecchia Signora jelas butuh gol cepat guna mengakhiri pertandingan lebih dini.
Sementara untuk komposisi pemain, keputusan aneh dibuat Allegri dengan menurunkan Kingsley Coman dan Simone Padoin. Coman yang merupakan seorang gelandang serang, sudah membuktikan di pra musim bahwa dirinya tidak cocok berperan sebagai striker kedua pendamping Mario Mandzukic. Sementara Padoin yang memang serba bisa, terlalu medioker untuk mengisi pos krusial peninggalan Pirlo sebagai poros permainan.

Alhasil Juve jadi minim kreasi menghasilkan peluang mencetak gol. Mereka terpaksa memainkan skema monoton dengan umpan lambung dari kedua sisi lapangan, memaksimalkan kelebihan Mandzukic pada bola udara. Cara itu mudah terbaca oleh sang lawan, sehingga tak satu pun gol dihasilkan.

Melihat kondisi tersebut, sekali lagi, Juve jelas butuh sokongan penggawa yang tak hanya ber-skill tinggi, tapi juga genius dalam mengkreasi peluang.


 
Vazquez, Cuadrado, dan Lemina bakal jadi solusi?

Sembari menanti kembalinya Marchisio, Khedira dan Morata dari meja perawatan, mari kita tilik rencana lanjutan Juve untuk memperkuat skuatnya musim ini. Usaha untuk mendatangkan sosok jenius nan berkualitas memang terkesan berlarut-larut. Namun kini titik terang mulai tampak.

Berdasar skema 4-3-1-2, dari lini belakang, Beppe Marotta cs baru saja meresmikan transfer Alex Sandro sebagai suksesor Patrice Evra yang makin menua. Sementara itu Juve juga tinggal selangkah lagi mendapatkan Juan Cuadrado, untuk mengisi sisi kanan yang sudah dikawal Stephan Lichtsteiner selama empat musim terakhir.

Bek asal Swiss itu makin menua dan melambat, hal itu terlihat jelas saat dirinya jadi biangkerok gol kemenangan Udinese. Kehadiran Cuadrado diprediksi jadi solusi jitu. Meski tipenya lebih ofensif, pemain asal Kolombia ini amat fleksibel dengan tak kaku dalam bertahan sebagai full back maupun sayap kanan.

Maju ke lini tengah, proses transfer jangkar Olympique Marseille, Mario Lemina, berjalan tanpa halangan. Sebagai jangkar, pemain yang baru berusia 21 tahun ini merupakan sosok cerdas dalam bertahan dan membangun serangan. Ia gemar melepaskan umpan-umpan tak terduga layaknya Pirlo. Pemuda keturunan Gabon itu jelas kompetitif melapis jangkar baru Juve, Marchisio, ketimbang kembali memaksakan Padoin.

Pada pos yang paling krusial untuk mengkreasi kans mencetak gol, trequartista, Franco Vazquez kini jadi nama yang paling realistis. Harus diakui jika kualitasnya masih diragukan, namun ia adalah pilihan terbaik di tengah kegagalan La Vecchia Signora mendatangkan Mario Gotze dan Julian Draxler. Setidaknya torehan 10 gol dan 11 assist di Serie A musim lalu jadi gambaran bahwa bintang Palermo ini tak bisa diremehkan.

Kini kita tinggal menanti realisasinya dan bagaimana Allegri menghadirkan solusi, di tengah situasi yang perlahan mulai pelik. Era baru telah dimulai dan Juve butuh sosok serta ide genius untuk mempertahankan kejayaannya.


"Miskin Kreasi, Juventus Butuh Sosok Genius" oleh: Ahmad Reza Hikmatyar
sumber asli di ambil di sini http://goo.gl/3ayc4z




Saturday, August 8, 2015

Ini Alasan Juventus Lepas Arturo Vidal






Seperti halnya Carlos Tevez dan Andrea Pirlo, Arturo Vidal dilepas Juventus usai menyampaikan keinginan untuk menjajaki petualangan baru.

Setelah empat tahun bersama Juventus, Arturo Vidal dikonfirmasi akan meninggalkan klub untuk kembali ke Bundesliga Jerman dengan membela Bayern Munich.


Kesepakatan diraih kedua klub untuk transfer mantan gelandang Bayer Leverkusen itu di kisaran €40 juta, dengan si pemain menuju Allianz Arena sebagai pengganti Bastian Schweinsteiger.

Direktur olahraga Juve, Beppe Marotta, mengaku keputusan melepas Vidal, yang sejatinya merupakan salah satu pilar penting lini tengah, diambil lantaran pemain Cile itu sendiri menyampaikan keinginan untuk menjajal petualangan baru, seperti halnya Andrea Pirlo dan Carlos Tevez yang sudah lebih dahulu pergi.

"Kami selalu mengatakan tak akan menjual pemain kecuali pemain itu sendiri mengindikasikan itulah yang mereka inginkan," kata Marotta dalam konferensi pers, Senin (20/7) kemarin.

"Begitulah keadaannya. Tevez meminta kembali ke Argentina. Pirlo membuat sejumlah evaluasi, dan memutuskan dia menginginkan pengalaman baru."

"[Angelo] Ogbonna meminta kesempatan dan konsistensi dalam waktu bermain, dan untuk Vidal saya telah menanyainya sebelum saya bertemu dengan petinggi Bayern Munich."

"Dia mengonfirmasi bahwa dia menginginkan pengalaman berbeda. Saya juga hendak menekankan bahwa sang pemain memiliki kontrak yang berakhir pada 2017 [di Juve], sementara Bayern menawarkan kontrak lima tahun, dan itu sangat penting untuk masa depannya."

"Kami bukan klub penjual, kami menaruh perhatian pada mereka yang bisa meningkatkan level kualitas kami," pungkas Marotta.

"Ini Alasan Juventus Lepas Arturo Vidal" oleh Dede Sugita
sumber asli tulisan di sini: http://goo.gl/Sgmgcw




Wednesday, August 5, 2015

Arturo Vidal dan Jodoh yang Tertunda.


Arturo Vidal sempat diminati oleh Bayern Muenchen pada tahun 2011 lalu. Tapi, Bayer Leverkusen memilih menjualnya ke Juventus. Apakah kepindahan yang tertunda selama empat musim itu bisa berbuah baik bagi Vidal dan Muenchen?

“Kalau jodoh tak akan lari ke mana”. Ungkapan ini sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Maknanya jelas, jika dua pihak sudah digariskan untuk bersatu maka apa pun yang terjadi keduanya akan tetap bersatu.

Ungkapan tersebut nampaknya cocok dengan situasi gelandang berkebangsaan Chile, Arturo Vidal. Pemain yang turut mengantarkan negaranya menjuarai Copa America 2015 ini pada 2011 diminati oleh raksasa Jerman Bayern Munich. Vidal pun kala itu diberitakan telah mencapai kesepatakan untuk bergabung dengan FC Hollywood. Jupp Heynckess, pelatih tim Bavaria ketika itu, seperti dilansir Bild bahkan sudah
mengatakan bahwa Vidal hanya akan pindah ke Muenchen. Namun nasib pemain sepak bola sedikit banyak tergantung kebijakan klub. Bayer Leverkusen tempatnya bermain kala itu menolak menjual sang pemain ke sesama klub Bundesliga.

Pada situasi inilah datang raksasa Italia Juventus yang mencoba membangun kembali puing-puing kejayaan mereka pascaskandal pengaturan skor Calciopoli. Mahar sebesar sepuluh juta Euro pun disetujui Leverkusen dan Vidal pun berganti kostum putih hitam. Kepindahan Vidal ke Serie A langsung mengundang komentar Presiden Bayern Muenchen Uli Hoeness. “Vidal telah melanggar janji,” sebut mantan pemain timnas Jerman itu.

Empat tahun berselang, Vidal turut membantu Juventus kembali merajai Italia. Empat gelar scudetto dalam empat tahun berhasil direngkuh La Vecchia Signora bersama Vidal di ruang mesin. Tak hanya itu, akhir musim 2014/2015 mantan pemain Colo-Colo ini bahkan turut mengantar Juventus ke final Liga Champion, final pertama mereka sejak 2003.

Dalam rentang waktu yang sama Muenchen pun nampaknya telah move on dari kegagalan merekrut Vidal. Sederet pemain bintang berdatangan, mulai penjaga gawang Manuel Neuer, bek Jerome Boateng hingga sang pemain termahal Javi Martinez. Mereka turut membentuk Muenchen menjadi kekuatan paling menakutkan di Eropa. Tiga gelar juara –Bundesliga, DFB Pokal dan Liga Champion– diraih pasukan Jupp Heynckess itu pada musim 2012/2013. Komposisi pasukan Muenchen hanya bisa disamai oleh dua raksasa Spanyol, Real Madrid dan Barcelona.

Saat kedua belah pihak tengah menapaki jalan masing-masing, saat itulah takdir mempertemukan mereka kembali. Pindahnya gelandang Bastian Schweinsteiger ke Manchester United menyisakan satu tempat kosong di lini tengah Muenchen. Belum lagi kehadiran Direktur Teknik, Michael Reschke, di deretan pajabat kunci klub. Reschke yang pindah dari Leverkusen pada 2014 adalah sosok yang mendatangkan Vidal ke Jerman.

Reschke pulalah yang telah meyakinkan direksi Muenchen untuk melupakan sakit hati atas kegagalan transfer Vidal pada 2011. CEO Muenchen Karl Heinz Rummenigge menyebut Reschke telah memberitahunya bahwa kegagalan transfer Vidal pada 2011 karena Leverkusen menolaknya.

Di satu sisi Juventus tengah melakukan perubahan komposisi skuat. Vidal sebagai salah satu pemain penting yang sempat menurun performanya lantaran cedera tahun lalu, diminati oleh banyak klub besar yang siap membayar mahal. Beberapa klub Inggris dikabarkan siap meminang salah satu gelandang box to box terbaik dunia itu. 

Namun, hanya Muenchen yang serius berminat mendatangkan Vidal. Keseriusan itu ditunjukkan dengan uang sebesar 37 juta Euro –via transfermarkt.de– yang dibayarkan Muenchen untuk mendatangkan pemilik 69 caps bersama Chile itu.

Tepat pada 28 Juli 2015, Vidal akhirnya secara resmi menandatangai kontrak berdurasi empat tahun dengan Muenchen. Transfer yang akhirnya terealisir setelah empat tahun “tertunda”.

Menarik dilihat bagaimana kiprah Vidal di Muenchen. Bukan rahasia lagi jika penampilan gelandang pencetak 12 gol bagi Chile ini tak semaksimal sebelum operasi lutut pada 2014. Vidal sendiri sempat mengakui hal itu, meski belakangan mengaku sudah pulih 100%. Entah bagaimana kebenarannya, hanya penampilan di lapangan yang akan membuktikan.

Meski mendatangkan pemain berkelas dalam sosok Vidal, Muenchen tak lepas dari kritik. Salah satunya menyangkut masa depan karir sang pemain. Dalam usia 28 tahun Vidal diprediksi tak akan lama berada di puncak permainan. Terlebih melihat gaya bermain Vidal yang sangat menguras fisik. Kecuali ia bisa menyesuaikan gaya bermain dengan usianya, pemain kelahiran Santiago ini mungkin hanya akan maksimal hingga tiga tahun ke depan.

Muenchen sudah menanti empat tahun dan mereka masih saja memilih Vidal. Klub peraih treble winners 2013 ini bahkan rela mengeluarkan uang berlipat-lipat dari nilai transfer Vidal sebelumnya. Akan sangat disayangkan jika akhirnya pencetak 35 gol di Serie A ini tak maksimal akibat terkendala kondisi fisik. Adalah tugas pelatih Pep Guardiola dan tim dokter Muenchen untuk memastikan penantian Muenchen tidak sia-sia.

Arturo Vidal dan Jodoh yang Tertunda oleh Arsyad M. Fajri.
Sumber tulisan dari sini http://goo.gl/H7iwZr

 
Back To Top